Kamis, 22 Maret 2012

PERILAKU KEORGANISASIAN

Intisari dari buku Perilaku Organisasi
Prof. Dr. Makmuri Muchlas, Msc

Buku Perilaku Organisasi yang ditulis oleh Prof. Dr. Makmuri Muchlas, Msc adalah tentang 2 hal yaitu manusia dan organisasi. Seperti yang kita tahu bahwa manusia itu unik, beda manusia dengan mesin (dalam buku ini disebutkan sebagai sumber daya organisasi) adalah terletak pada kemampuan merespon sesuatu. Mesin akan memberikan respon yang sama jika diberikan input yang sama, sedangkan manusia tidak, suatu input yang sama akan menghasilkan output yang berbeda jika diberikan pada orang yang berbeda.
Organisasi mempunyai nilai, kultur dan budaya yang dipegang teguh  oleh organisasi dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tentu saja nilai yang terkandung dalam organisasi itu terkadang tidak sesuai dengan nilai yang selama ini dipegang teguh oleh tiap individu dan kelompok dalam organisasi. Hal itu disebabkan oleh karakteristik, sikap mau pun motivasi yang dimiliki oleh individu tersebut yang dalam buku ini sudah dijelaskan secara panjang lebar, ternyata juga mempengaruhi gaya kepimimpinan dan minatnya pada pekerjaan serta terkadang timbul konflik, atau yang paling parah adalah menimbulkan stress.
Sementara organisasi terus bertumbuh, orang-orang didalamnya semakin unik, konflik semakin tak terhindarkan, sehingga disini perlu seni manajemen stress dan konflik, serta seni memanage manusia untuk mengatasinya. Secara keseluruhan buku ini menjelaskan tentang pengertian dan model perilaku organisasi, perilaku dalam konteks global, dasar-dasar perilaku individual, persepsi dalam perilaku organisasi, nilai-sikap dan perilaku organisasi, konsep motivasi,dasar perilaku kelompok, komunikasi dalam organisasi, kekuatan dan politik dalam perilaku organisasi, manajemen perubahan, konflik, budaya organisasi, hingga akhirnya bagaimana mengatasi stress di tempat kerja.
Menurut Robins, perilaku organisasi adalah ilmu yang menyelidiki dampak dari pengaruh individu, kelompok dan struktur dalam organisasi terhadap perilaku orang-orang yang terlibat di dalamnya yang bertujuan untuk mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam meningkatkan efisiensi organisasi. Berdasarkan definisis tersebut, elemen-elemen kunci dalam perilaku organisasi adalah manusia, struktur, teknologi dan lingkungan tempat organisasi tersebut beroperasi. Ketiga elemen pertama selalu berinteraksi satu sama lain dan dipengaruhi oleh dan mempengaruhi lingkungan luarnya.
Ada empat model dalam perilaku organisasi yaitu otokratik, kastodial, suportif dan kolegial. Model-model ini dalam prakteknya adalah sesuatu yang bisa berubah secara evolusioner, sesuatu yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan karyawan, sesuatu yang dapat mengikuti kecenderungan menuju model-model yang lebih baru, dan sesuatu dimana salah satu model dapat diaplikasikan dengan sukses pada situasi-situasi tertentu.
Ekonomi global memberikan tantangan bagi para manajer yang semula hanya beroperasi secara nasional saja. Mereka menghadapi ssstem-sistem hokum dan politik, situasi ekonomi dan kebijaksanaan perpajakan yang berbeda, tetapi mereka juga harus mengerti dan mengikuti berbagai kultur nasional, yaitu nilai-nilai penting yang dipraktekkan, yang memberikan kekhususan pada negara-negara yang bersangkutan. Setiap gerakan manusia dari satu negara ke negara lain akan menimbulkan kebingungan, disorientasi, dan ketegangan emosional yang disebut sebagai cultural shock. Perbedaan kultur lokal pun sering mewarnai para karyawan di perusahaan-perusahaan besar. Oleh karena itu, keberhasilan seorang top manajersangat bergantung pada kejeliannya dan kemampuannya mengatasi masalah-masalah ini dengan seni manajemen yang didasarkan pada perilaku organisasi ini.
Karakteristik biografik, kemampuan, kepribadian dan proses belajar merupakan  dasar-dasar perilaku individual. Mengenai ciri-ciri kepribadian dapat ditarik kesimpulan menurut teori Holland yaitu tentang penyesuaian kepibadian dengan pekerjaan. Dalam perilaku organisasi, proses belajar adalah perubahan perilaku yang relative permanen yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman hidup. Jadi kita tidak melihat proses belajarnya, tetapi melihat perubahan-perubahan yang terjadi akibat dari proses belajar tersebut.
Persepsi didefinisikan sebagai proses dimana individu mengorganisasikan dan menginterprestasikanimpresi sensorisnya supaya dapat memberikan arti kepada lingkungan sekitarnya (Robins, 1993). Selektivitas persepsi ini dipengaruhi oleh factor perhatian luar seperti intensitas, ukuran, kontras, repetisi, gerakan, keterbaruan, keterbiasaan dan factor perhatian dalam yang terdiri dari proses belajar, motivasi dan kepribadian.
Dalam kultur kita nilai-nilai tertentu telah berkembang selama ini, dan secara berkesinambungan terus dipelihara dan ditingkatkan. Sikap adalah sesuatu yang kompleks yang didefinisikan sebagai pernyataan-pernyataan evaluative,baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan atau penilaian-penilaian mengenai obyek,manusia, atau peristiwa-peristiwa (Robins, 1989). Sikap tidak  mempunyai hubungan sebab akibat dengan perilaku. Kalaupun ada hubungan, disebabkan oleh variable perantara seperti kekhususan sikap seseorang,batsan social terhadap perilaku seseorang dan pengalaman dengan sikap yang dipertanyakan.
Dalam sebuah organisasi motivasi adalah kemauan untuk berjuang/berusaha ketingkat yang lebih tinggi menuju tercapainya tujuan organisasi dengan syarat tidak mengabaikan kemampuannya untuk mencapai kepuasan dan pemenuhan kebutuhan pribadi. Kemampuan, pengetahuan pekerjaan, kepuasan, emosi, suasana hati, perasaan keyakinan dan nilai-nilai adalah factor-faktor yang mempengaruhi motivasi. Orang yang memiliki motivasi tinggi, memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang pekerjaannya, memiliki kebutuhan meningkat dan puas dengan pekerjaannya, dan rekan-rekannya.
Manajemen modern perlu mempelajari perilaku karyawan dalam kelompok. Alasan manusia bergabung dalam kelompok antara lain adalah rasa aman, status, harga diri, afiliasi, kekuatan dan pencapaian tujuan. Dinamika kelompok mengutamakan adanya interaksi dan pertukaran pengaruh diantara sesame anggota kelompok dalam sebuah situasi social. Jika konsep ini diaplikasikan pada studi tentang perilaku organisasi, sebaiknya konsep ini difokuskan pada dinamika para anggota kelompok baik formal mau pun informal dalam organisasi.
Komunikasi adalah pemindahan informasi. Sehingga harus ada pesan, pemberi informasi dan penerima informasi. Komunikasi formal maupun informal dalam organisasi berguna untuk memenej sikap dan perilaku para anggota dalam organisasi tersebut. Umpan balik dapat untuk mengecek apakah informasi sudah diterima dengan baik. Komunikasi organisasi terdiri dari komunikasi keatas, komunikasi ke bawah dan komunikasi horizontal.
Kekuatan adalah kapasitas seseorang untuk mempengaruhi perilaku orang lain sehingga mau melakukan sesuatu yang dia sendiri tidak memiliki pilihan lain untuk tidak melakukannya (Robbins, 1993, Mitchell, 1985). Semakin besar kekuatan semakin besar pula ketergantungan. Jika orang berkumpul dalam suatu kelompok, pencarian kekuatan akan diperjuangkan masing-masing. Mereka yang mempunyai keterampilan politik memiliki kemampuan untuk menggunakan basis kekuatannya secara efektif.
Organisasi bisa bertahan karena kemampuannya mengatasi perubahan. Perubahan bisa bersifat proaktif kalau salah satu kekuatan dari perubahan itu mengarahkan organisasi pada keputusan bahwa perubahan khusus memang diinginkan, bisa juga bersifat reaktif bila salah satu dari kekuatan perubahan itu memang dianggap perlu untuk mengimplementasikan sebuah perubahan. Enam dari tehnik-tehnik yang paling umum digunakan untuk mengatasi pertentangan terhadap perubahan adalah pendidikan dan komunikasi, partisipasi dan keterlibatan,bantuan, intensif, manipulasi dan kooptasi serta ancaman hukuman.
Stres adalah respon yang adaptif, dimediasi oleh perbedaan-perbedaan individual dan atau proses psikologi dan merupakan sebuah konsekuensi dari tindakan atau situasi eksternal yang dapat mempengaruhi kondisi fisik, psikologis dan perilaku individu dalam organisasinya. Manajemen Stres bisa dilakukan secara pendekatan individual, terapi kelompok dan pendekatan organisasi
Perilaku interaktif dapat terjadi pada tingkat individual, interpersonal, kelompok atau organisasi. Hal ini sering menimbulkan konflik pada tingkatan tersebut. Ada lima cara intense mengatasi konflik yaitu kompetisi, kolaborasi, menghindari, akomodasi dan kompromi
Budaya organisasi memiliki beberapa karakteristik umum yaitu: norma,nilai-nilai yang dominan, filosofi, aturan dan iklim organisasi. Meskipun budaya organisasi dapat berkembang, kita perlu memulai budaya organisasi yang tentu saja disesuaikan dengan perubahan organisasi serta terkadang mempertahankan budaya-budaya yang kita anggap masih relevan melalui langkah sosialisasi. Budaya organisasi terdiri dari tipe terbuka dan partisipatif. Perspektif tentang budaya organisasi terdiri dari integrasi, differensiasi dan fragmentasi. Meyerson dan Martin (1987) mempunyai argumentasi yang penting untuk mengerti sepenuhnya budaya organisasi agar bisa menganalisis sebuah situasi dari sebuah perspektif. Penting untuk waspada terhadap hal-hal : proses-proses yang menghasilkan keharmonisan dan konsesus, factor cultural yang berdasarkan perbedaan dan inkonsistensi serta keraguan yang lebih merupakan status natural dari pada stase temporer sebelum sebuah corak yang regular ditempatkan.

1. Hal yang perlu didiskusikan dari buku tersebut:
Informasi yang saya temukan dari buku ini semuanya penting, beberapa kasus yang tertulis juga menarik untuk dikaji lebih lanjut, tapi saya telah mengaris bawahi beberapa point penting yang menurut saya layak didiskusikan yaitu :
  1. Pengembangan organisasi: Prinsip-prisip PO mengutamakan pertumbuhan kemanusiaan dan organisasi, proses-proses kolaboratif dan patisipatif, dan spirit untuk selalu bertanya. Di sini dijelaskan bahwa agen perubahan dalm organisasi bisa bersifat direktif tetapi tetap kolaborasi. PO dapat dipikirkan sebagai jalan menuju penguatan motivasi intrinsic (empowerment) apabila disertai intervensi-intervensi yang bisa membantu terciptanya iklim kepercayaan, keterbukaan dan suportivitas yaitu: latihan sensitivitas, penelitian umpan balik,konsultasi proses, pembinaan tim, dan pengembangan antar kelompok.
  2. Konflik: Terus terang saya tidak setuju dengan pendapat tradisional yang mengatakan bahwa konflik itu jelek dan harus dihindari, saya lebih setuju dengan pendapat ketiga yaitu pendapat interaksionis dimana dengan penjagaan minimalis konflik bisa membuat organisasi menjadi hidup, kritis dan kreatif. Bagaimana mengatasi konflik juga dijelaskan panjang lebar dalam buku ini.
  3. Stress di tempat kerja: Dengan pendekatan organisasi, beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya stress dapat dikontrol oleh manajemen melalui seleksi dan penempatan, penetapan tujuan, pendesainan kembali pekerjaan, pengambilan keputusan secara partisipatif, komunikasi organisasi,program-program kebugaran.
2. Kritis saya tentang buku tersebut:
Buku ini menarik jika dibaca secara serius. Pertama kali saya sebenarnya berniat untuk mengkritisi ketebalan dari buku ini, bahkan saya sempat chating dengan rekan saya sesama mahasiswa MMF tentang ketebalan buku ini, terus terang agak malas juga baca buku tebal, tapi ups… setelah saya baca bagian belakang dari sampul buku ini, saya jadi senyum-senyum sendiri, ternyata kritik tersebut telah dijawab oleh penulis, dan saya juga membuktikan bahwa tebalnya buku ini disebabkan kayanya buku ini akan informasi tentang perilaku organisasi. Dalam buku ini telah disinggung mengenai IQ dan EQ tapi belum disinggung melalui SQ, sementara ketiga hal tersebut tidak bisa dipisahkan.
Dalam buku ini, saya membaca tentang kepribadian, dimana kepribadian ini dipengaruhi oleh faktor keturunan, lingkungan, situasional, dan watak kepribadian dikelompokan sebagai tipe introversi, kontroversi, sementara saya pernah membaca buku karya Florence Littauer, “Personality plus”, dimana disitu disebutkan bahwa Hippocrates telah mengelompokan 4 watak dasar manusia yaitu melankolis, plegmatis, sanguinis, dan koleris, dan sebagai pengayaan pengetahuan saya saja, selama ini 4 watak dasar itulah yang menjadi dasar saya dalam bergaul dengan teman-teman saya, bahkan saya bisa menebak watak satu persatu teman saya berdasarkan kriteria ini, tapi saya agak heran jika buku ini tidak memuat hal tersebut, mungkin hal ini disebabkan ketidaktahuan saya saja, karena mungkin teori 4 watak dasar menurut Hipokrates sudah terlalu tua dan atau mungkin telah ditumbangkan oleh teori baru.
Setelah membaca buku tersebut, saya menemukan beberapa pencerahan, terutama pada beberapa point yang saya sebutkan pada soal nomer 2. Beberapa buku yang saya baca, salah satunya buku “Berdamai dengan diri anda sendiri” yang ditulis oleh Harold H. B, membahas tentang sindrom Achilles, dan beberapa waktu yang lalu saya sempat mengalaminya. Tetapi buku Harold tersebut lebih berbicara mengenai penyembuhan diri sendiri, sebab-sebab timbulnya Achilles syndrome itu sendiri kurang dibahas lebih lanjut, dan ternyata pertanyaan saya terjawab melalui buku perilaku organisasi ini, pada point konflik tentu saja walau pun dalam buku ini tidak disebutkan secara langsung tentang Achilles Syndrome.

3. Pendapat saya tentang buku tersebut:
Menurut pendapat saya, buku ini sangat bermanfaat karena kaya akan informasi mengenai perilaku organisasi, hubungan individu dan organisasi serta manajemen manusia. Buku ini memuat segala dinamika manusia sebagai pelaku organisasi dan pengatasan masalah yang timbul dalam organisasi serta variabel-variabel yang termatup dalam penelitian motivasi dan merupakan referensi yang cocok bagi para eksekutif mau pun para pelaku organisasi lain.

SYIFA NURJUANITA
16210802

Tidak ada komentar:

Posting Komentar